Catatan Paryo Bag 9


Paryo, kemarin seperti biasanya setiap tahun selain hari buruh ada juga yang namanya hari kelulusan sekolah. Tapi kebetulan hari yang ini tidak diakui oleh institusi pendidikan atau pemerintah karena alasan ketertiban dan estetika.

Tidak ada yang menganggap spesial kecuali hanya mereka yang muda, sekolah dan akhirnya lulus yang merasakanya. Hari yang luarbiasa, Paryo.
-
Paryo oh Paryo, entah darimana di dada setiap siswa terhembuskan pesan “mari kita rayakan”. Ketika itu dada seperti hendak meledak karena tak mampu lagi menahan kegembiraan dari sebuah perjuangan. Semua berteriak, berhamburan saling memeluk dan beberapa diantaranya menangis bersyukur. Kemudian semua berkumpul dan adegan corat-coret seragam dimulai. Jangan kau anggap sikap mereka buruk, Paryo. Hanya karena Pylox dan Spidol belum tentu mereka sedangkal itu.

Paryo, yang mereka coret-coret bukan hanya baju seragam. Corat-coret mereka adalah sikap, statement, pernyataan bahwa begitu panjang dan menjemukanya sekolah. Dan mereka juga tak benar-benar merayakan sebuah pesta kelulusan yang dianggap jelek, urakan, norak, dan buruk. Itu bukan perayaan, Yo. Karena nyatanya mereka tak benar-benar lulus. Mereka tidak bodoh, Yo, bahwa setelah ini mereka akan melanjutkan ke jenjang kuliah atau mencari kerja. Mereka sadar bahwa perjuangan masih panjang. Tapi bolehkah mereka sekedar meminta waktu sesaat hanya untuk menarik nafas, Yo? Bolehkah adik-adik kita berhenti barang sehari dari kenyataan bahwa nasib hidup mereka bergantung pada seberapa tinggi hirarki pendidikan?
-

Yo, Paryo, kalau boleh saya mau ngomong sama adik2 saya yang baru lulus atau nanti akan lulus: adik-adik, coret-coretlah baju seragammu asal jangan mertabatmu. Nanti kalau ada yang bilang, sayang seragamnya. Gpp, dik, kasih yang baru jangan yang bekas. Kalau ada yang melihatmu sebelah mata, terima saja. Sebab sekolah hanya dinilai sebagai sebuah kewajiban bukan perjuangan. Dik, rayakanlah sekedarnya dan jangan lupa diri. Sebab bsk km harus kembali berjuang lagi. Salam utk temanmu, sahabatmu, dan masa2 indahmu. Ahh indahnya SMA. Sebelum akhirnya semua direnggut oleh kenyataan kita harus kerja, kerja, dan kerja.
-
FotoFrom: seputarjabar.com


0comments